Blessing In Disguise : Hikmah Dibalik Sakit

Count Your Blessings on a cork notice board

Tidak ada satu orang pun yang mau sakit. Sakit itu tidak enak. Sudah tidak bisa beraktifitas, mesti keluar uang buat bayar biaya pengobatan. Nikmatnya beraktifitas baru terasa tatkala kita sakit.

Sesungguhnya sakit itu adalah sebentuk ujian dari Allah Swt. Bagi orang yang bersabar, ada segenggam pahala yang bisa diambil. Namun bagi orang yang hatinya belum jernih, yang ada cuma penyesalan dan sikap menyalahkan diri sendiri ataupun orang lain.

Boleh jadi, Allah Swt memberikan kita sakit untuk menguji, apa saja persiapan yang sudah kita lakukan.

Maksudnya bagaimana ?

Iya. Sakit itu datang tidak diduga-duga. Sama halnya seperti hujan. Hujan datang tak disangka-sangka. Meski demikian, kita masih bisa melihat tanda kedatangannya lewat awan gelap atau gemuruh angin. Ketika melihat itu, kita bisa bersiap-siap dengan membawa payung atau jas hujan. Itu merupakan sebentuk persiapan yang bisa kita lakukan.

Lalu bagaimana dengan sakit, apa yang bisa kita persiapkan ?

Adapun khusus untuk sakit, kita bisa melakukan dua hal. Pertama menjaga diri agar tidak jatuh sakit. Yang kedua membuat persiapan jika akhirnya kita jatuh sakit.

Berdasarkan penyebabnya, sakit ada dua jenis. Sakit yang disebabkan oleh pikiran dan sakit yang disebabkan oleh fisik. Makanya, menjaga pikiran itu sangat penting. Betapa banyak penyakit yang timbul karena pikiran yang kusut.

Menjaga fisik juga tak kalah penting. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah rajin berolahraga, makan yang teratur, dan beristirahat yang cukup. Kedua hal tersebut terbukti mampu membuat badan lebih sehat.

Meskipun demikian, ternyata banyak juga orang yang sudah menjaga pikiran dan fisiknya namun tetap jatuh sakit. Lalu kalau demikian bagaimana, apa lantas mau menyalahkan Tuhan ?

Sikap menyalahkan, baik diri sendiri, orang lain, bahkan Tuhan adalah sikap orang kurang terpuji. Seperti yang telah diceritakan di awal. Sakit itu bisa jadi ujian dari Tuhan. Bisa jadi sumber pahala jika kita mampu menyikapinya dengan baik.

Apakah dengan menyikapi secara baik saat sakit itu sudah cukup ?

Tergantung sakitnya.

Cukup apabila hanya sakit ringan. Tidak cukup apabila sakit berat. Sebab sakit berat seringkali membutuhkan biaya pengobatan yang cukup mahal.

Bisa dibilang, menyikapi secara baik saat sakit adalah tindakan kuratif.

Lalu apa tindakan preventifnya ?

Salah satu tindakan preventifnya adalah ikut asuransi!

Ada sebuah percakapan dengan topik sakit dan asuransi.

A : Mau sakit ga ?

B : Engga mau

A : Kalau dapat uang mau ?

B : Mau dong

A : Nah kalau sakit dapat uang, mau ga?

B : Uangnya aja, sakitnya engga

A : Ya memang tidak ada orang yang mau sakit. Tapi kalau cuma ada dua pilihan, sakit dapat uang atau sakit tidak dapat uang, mau pilih mana?

B : Sakit dapat uang dong

Itu dia manfaat asuransi. Terkait uang, ada dua jenis manfaat asuransi. Satu, asuransi membayarkan biaya pengobatan kita. Dua, asuransi memberikan kita uang tunai.

Sesungguhnya asuransi itu sangat sederhana

  • Asuransi itu kalau sakit dapat uang
  • Asuransi itu kalau kecelakaan dapat uang
  • Asuransi itu kalau tertanggung meninggal, ahli waris dapat uang

Memang, saat risiko kehidupan datang, seseorang tidak hanya butuh uang. Ia butuh perhatian dan dukungan dari keluarga dan orang terdekat. Meski demikian, uang tetaplah salah satu yang dibutuhkan. Dan asuransi memberikan kita uang yang dibutuhkan pada saat itu. Maka tidak salah jika dibilang asuransi adalah perlindungan keuangan.

Kembali ke cerita awal. Ikut asuransi adalah tindakan preventif yang bisa kita lakukan. Tujuannya, agar misalnya ketika kita jatuh sakit, setidaknya kondisi finansial kita tidak ikut jatuh.

Aspek finansial yang dilindungi lewat asuransi bisa berupa uang tunai, tabungan, emas, properti, surat berharga, bahkan hingga ketrampilan / keahlian.

Loh kok keterampilan / keahlian masuk aspek finansial ?

Iya. Keterampilan yang dimaksud di sini adalah keterampilan yang bisa menghasilkan uang. Misalnya seorang penyanyi memiliki keterampilan bernyanyi. Dengan keterampilan itu ia bisa mendapatkan uang. Jika keterampilan itu lenyap, maka penghasilan ia juga lenyap.

Makanya banyak penyanyi yang mengasuransikan pita suara mereka.  Agar jika risiko kehidupan datang, mereka masih memiliki sejumlah uang untuk menggantikan penghasilannya sementara waktu. Dengan uang itu, mereka bisa membuka bisnis atau mencari peluang usaha lain.

Asuransi bukan berbicara tentang jaminan finansial di saat sehat. Itu bukan asuransi. Kalau sehat, mestinya anda tidak perlu. Anda bisa meningkatkan dan menjamin kondisi finansial anda dengan bekerja. Yang bisa bikin bingung itu kalau sakit.

Saat anda sehat, anda bisa bekerja lalu menabung atau berinvestasi. Bekerja pun bisa ada dua pilihan, bekerja di perusahaan ataupun membuka usaha sendiri.

Hasil tabungan atua investasi bisa anda pergunakan untuk membayar biaya sekolah anak, membeli rumah, barang-barang, ibadah, dan lain-lain. Kondisi sehat saja butuh uang. Apalagi kondisi sakit. Setuju ?

Kesimpulannya, milikilah asuransi segera sebelum terlambat. Karena asuransi hanya bisa dimiliki orang yang sehat dan punya uang untuk membayarnya.

Nilai premi asuransi itu sangat kecil bila dibandingkan dengan uang yang dilindunginya. Mungkin premi asuransi hanya sekitar 10 % dari penghasilan. Namun uang yang hanya 10 % ini bisa melindungi seluruh penghasilan dan aset yang anda miliki.

Ingin konsultasi mengenai asuransi ? Silahkan hubungi saya.

Nugroho Atma Hadi

Your Trusted Financial Advisor

Tinggal di Bandung

Whatsapp & Phone : 085695848493

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s